MIMBARMOJOKERTO — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), banyak orang masih beranggapan bahwa dunia teknologi hanya milik mahasiswa jurusan informatika, teknik komputer, atau mereka yang memiliki latar belakang pemrograman.
Namun, anggapan tersebut perlahan mulai terpatahkan oleh kisah inspiratif seorang mahasiswa rantau asal Sulawesi Utara yang memilih untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan dampak melalui teknologi.
Adalah Jihan Nabillah Kokalo, mahasiswa Semester VI Program Studi Penyiaran Agama Islam (KPI) Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) Mojokerto, yang berhasil menorehkan capaian membanggakan dengan masuk dalam Top 500 Rising Star Google Student Ambassador (GSA) Indonesia 2026.
Pencapaian tersebut bukan sekadar angka atau gelar.
Di baliknya tersimpan perjalanan panjang tentang semangat belajar, keberanian keluar dari zona nyaman, serta komitmen untuk membawa manfaat bagi lingkungan sekitar melalui pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab.
Program Google Student Ambassador (GSA) Indonesia 2026 menjadi salah satu program pengembangan mahasiswa terbesar yang berfokus pada peningkatan literasi teknologi dan pemanfaatan AI secara produktif.
Tahun ini, program tersebut menarik perhatian luar biasa dari mahasiswa seluruh Indonesia.
Tercatat lebih dari 81.000 mahasiswa mengikuti proses pendaftaran dari berbagai kampus dan latar belakang disiplin ilmu.
Melalui serangkaian seleksi administrasi, video wawancara, serta penilaian terhadap potensi kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan membangun dampak, akhirnya terpilih 2.000 mahasiswa yang berhak mengikuti program Google Student Ambassador 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 150 mahasiswa mendapatkan kesempatan menghadiri kegiatan offline inauguration dan room tour di kantor Google Indonesia, sementara peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi banyak peserta, kegiatan inaugurasi tersebut menjadi pengalaman berharga karena mempertemukan mahasiswa dari Sabang hingga Merauke dalam satu ruang kolaborasi yang sama.
Di antara ribuan mahasiswa yang lolos, terdapat satu nama yang membawa semangat dari Indonesia Timur, yakni Jihan Nabillah Kokalo.
Jihan merupakan mahasiswa rantau asal Sulawesi Utara yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto melalui program Beasiswa PERGUNU.
Berada jauh dari kampung halaman bukanlah hal yang mudah.
Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru, ia juga dituntut untuk membagi waktu antara perkuliahan, kegiatan organisasi, pengembangan diri, dan berbagai aktivitas kemahasiswaan lainnya.
Namun justru dari perjalanan tersebut lahir semangat untuk terus berkembang.
Menariknya, Jihan bukan berasal dari jurusan teknologi maupun kampus yang berfokus pada bidang informatika.
Ia merupakan mahasiswa Program Studi Penyiaran Agama Islam di kampus yang dikenal kuat dengan tradisi pendidikan keagamaan dan pengembangan karakter.
Karena itulah, keberhasilannya menjadi bagian dari program Google Student Ambassador memberikan pesan kuat bahwa teknologi dapat dipelajari oleh siapa saja.
AI Bukan Hanya untuk Anak IT
Salah satu pesan yang paling konsisten disampaikan Jihan dalam berbagai konten, podcast, dan kegiatan edukasi adalah bahwa AI bukan hanya untuk mahasiswa IT.
Menurutnya, perkembangan teknologi saat ini telah membuka peluang bagi semua orang untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pembelajaran.
Mahasiswa komunikasi dapat menggunakan AI untuk menyusun naskah dan strategi media.
Mahasiswa pendidikan dapat memanfaatkannya untuk membuat bahan ajar.
Mahasiswa ekonomi dapat menggunakannya untuk analisis data.
Mahasiswa hukum dapat memanfaatkannya untuk membantu riset.
Bahkan mahasiswa keagamaan dapat menggunakan AI untuk mempercepat pencarian referensi dan pengembangan materi dakwah.
“Saya ingin menunjukkan bahwa AI bukan hanya milik mahasiswa teknologi. Semua mahasiswa punya kesempatan yang sama untuk belajar dan memanfaatkannya secara positif. Yang terpenting bukan siapa yang paling ahli menggunakan AI, tetapi siapa yang mampu menggunakan teknologi itu untuk membantu dirinya dan orang lain berkembang,” ujar Jihan.
Pesan inilah yang menjadi salah satu ciri khas aktivitas edukasi yang selama ini ia bangun.
Top 500 Rising Star : Bukan Tentang Cepat, Tetapi Konsisten
Perjalanan dalam program Google Student Ambassador tidak berhenti setelah seseorang dinyatakan lolos menjadi peserta.
Selama enam bulan, para peserta mendapatkan berbagai misi, tantangan, pembelajaran, serta tugas yang harus diselesaikan secara konsisten.
Peserta juga didorong untuk membuat konten edukasi, membangun komunitas pembelajaran, mengadakan kegiatan kampus, serta mengedukasi lingkungan sekitar mengenai pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Dari seluruh peserta tersebut kemudian dilakukan penyaringan kembali berdasarkan capaian dan kontribusi yang telah dilakukan.
Jihan berhasil masuk dalam Top 500 Rising Star, sebuah kategori yang diberikan kepada peserta yang mampu menyelesaikan berbagai misi dan aktivitas program dengan baik serta menunjukkan komitmen yang kuat dalam proses pembelajaran.
Tahapan berikutnya akan semakin menantang.
Dari 500 peserta tersebut, akan dipilih kembali menjadi Top 50 Gemini Achiever, sebelum akhirnya mengerucut pada 10 peserta terbaik tingkat nasional.
Meski demikian, bagi Jihan, capaian tersebut bukanlah tujuan akhir. “Bagi saya, posisi hanyalah bagian dari proses. Yang paling penting adalah apa yang saya pelajari selama perjalanan ini dan bagaimana ilmu itu bisa dibagikan kepada orang lain.”
Menjalani Banyak Peran dalam Satu Waktu Capaian ini menjadi semakin menarik karena diraih di tengah berbagai kesibukan yang dijalani Jihan.
Saat ini ia tengah memasuki Semester VI dan bersiap menghadapi program magang.
Di saat yang sama, ia aktif sebagai content creator yang mengelola berbagai konten edukatif di media sosial.
Tak hanya itu, ia juga dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua Forum Mahasiswa Sulawesi Utara di Mojokerto.
Bagi sebagian orang, menjalankan berbagai tanggung jawab tersebut mungkin terasa berat.
Namun Jihan justru memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu untuk mengelola aktivitasnya.
Gemini AI menjadi salah satu teknologi yang sering digunakannya untuk membantu mengatur jadwal, menyusun prioritas pekerjaan, mengembangkan ide konten, hingga meningkatkan efisiensi proses belajar.
“AI membantu saya menjadi lebih terorganisir. Tetapi keputusan tetap ada di tangan manusia. AI bukan pengganti manusia, melainkan alat bantu agar kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang bernilai.” katanya.
Dalam berbagai kesempatan, Jihan sering menekankan bahwa inti dari program ambassador bukanlah sekadar memahami teknologi.
Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut mampu menciptakan dampak nyata.
Karena itulah, selain membuat konten digital, ia juga mulai aktif mengedukasi mahasiswa melalui podcast, diskusi kampus, dan berbagai kegiatan yang memperkenalkan pemanfaatan AI kepada mahasiswa non-teknologi.
Melalui pendekatan tersebut, ia berharap semakin banyak mahasiswa yang tidak lagi takut terhadap perkembangan teknologi.
Sebaliknya, mereka mampu melihat AI sebagai peluang untuk berkembang.
“Teknologi tidak menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Justru teknologi membantu kita memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, berkarya, melayani, dan memberi manfaat bagi sesama.”
Sebagai mahasiswa asal Sulawesi Utara yang menempuh pendidikan di Mojokerto, Jihan menyadari bahwa dirinya tidak hanya membawa nama pribadi.
Ia membawa semangat kampung halaman, semangat mahasiswa rantau, serta semangat kampus yang selama ini dikenal sebagai institusi pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman dan karakter.
Keikutsertaannya dalam program Google Student Ambassador menjadi bukti bahwa mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang memiliki peluang yang sama untuk berkembang di era digital.
Bahkan kampus yang berfokus pada pendidikan agama pun dapat mengambil peran penting dalam pengembangan literasi teknologi dan kecerdasan buatan.
Inilah yang menjadikan perjalanan Jihan memiliki makna yang lebih luas.
Bukan hanya tentang teknologi.
Bukan hanya tentang prestasi.
Tetapi tentang bagaimana ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, dan teknologi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Perjalanan menuju Top 50 dan Top 10 nasional masih panjang.
Namun satu hal yang pasti, pengalaman yang telah dilalui membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari latar belakang yang sempurna.
Keberhasilan sering kali datang kepada mereka yang mau terus belajar, berani mencoba, dan tidak takut menghadapi perubahan.
“Masa depan bukan hanya milik mereka yang memahami teknologi. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menggunakan teknologi untuk membantu orang lain bertumbuh.” — Jihan Nabillah Kokalo
Bagi Jihan, menjadi bagian dari Google Student Ambassador bukan sekadar tentang menjadi representasi sebuah program.
Ini adalah perjalanan untuk terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Karena pada akhirnya, pencapaian terbesar bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang dapat ikut bertumbuh bersamanya.
Belajar hari ini. Berdampak esok hari. Bertumbuh bersama untuk Indonesia yang lebih siap menghadapi masa depan. (**)







